Menjalani program bayi tabung atau IVF adalah langkah berani yang penuh harapan. Meski teknologi reproduksi berbantu sudah semakin maju, masih ada saja tantangan yang harus dihadapi, salah satunya adalah ketika embrio tidak berkembang seperti yang diharapkan. Kondisi ini dalam istilah medis disebut embryo arrest.

Apa yang Dimaksud dengan Embrio Berhenti Berkembang?

Embrio yang sehat akan terus membelah diri hingga mencapai tahap blastokista—fase siap dipindahkan ke rahim. Sayangnya, tidak semua embrio mampu melewati proses ini. Beberapa berhenti di tengah jalan, dan hal itu sering kali berkaitan dengan kelainan kromosom. Penelitian dalam Human Reproduction mengungkap bahwa sebagian besar embrio yang gagal berkembang memang memiliki masalah pada kromosomnya.

Faktor-Faktor Penyebab Embrio Gagal Berkembang

1. Kelainan Kromosom pada Embrio

Ini merupakan penyebab paling umum. Embrio dengan jumlah atau struktur kromosom yang tidak normal sering kali mengalami gangguan pembelahan sel. Akibatnya, perkembangannya terhenti sebelum mencapai tahap blastokista. Risiko kelainan kromosom ini meningkat seiring bertambahnya usia ibu karena kualitas sel telur menurun secara alami.

2. Kualitas Sel Telur yang Menurun

Sel telur adalah modal utama dalam pembuahan. Meski saat IVF diambil banyak sel telur, tidak semuanya berkualitas baik. Sel telur yang kurang optimal bisa menghasilkan embrio yang sulit berkembang. Penurunan kualitas ini umumnya terjadi pada wanita yang menjalani IVF di usia lebih matang.

3. Kualitas Sperma yang Kurang Mendukung

Peran pria sering kali kurang diperhatikan, padahal kualitas sperma sangat menentukan. Kerusakan DNA sperma, jumlah sperma yang rendah, atau gangguan pergerakan sperma bisa memengaruhi kualitas embrio. Karena materi genetik dari sperma dan sel telur bergabung saat pembuahan, masalah pada sperma pun ikut memengaruhi perkembangan embrio.

4. Gangguan pada Proses Pembelahan Embrio

Setelah pembuahan berhasil, embrio harus melewati tahapan pembelahan yang kompleks. Tidak semua embrio mampu melewatinya. Studi dalam pertemuan American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menunjukkan bahwa banyak embrio berhenti berkembang karena kelainan kromosom yang terjadi selama pembelahan.

5. Kondisi Laboratorium IVF

Lingkungan tempat embrio dikultur juga sangat berpengaruh. Suhu, kualitas udara, media kultur, dan prosedur penanganan harus dijaga dengan standar tinggi. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menekankan pentingnya standar kualitas laboratorium IVF untuk memastikan embrio bisa tumbuh optimal.

6. Faktor Genetik dari Orang Tua

Pada sebagian pasangan, kegagalan perkembangan embrio bisa disebabkan oleh faktor genetik yang diwariskan. Jika ada indikasi, dokter biasanya menyarankan konseling genetik atau pemeriksaan seperti PGT-A untuk memeriksa kromosom embrio sebelum dipindahkan ke rahim.

7. Penyebab yang Belum Diketahui

Terkadang, embrio gagal berkembang tanpa sebab yang jelas. Perkembangan embrio adalah proses yang sangat kompleks, jadi tidak semua kegagalan bisa dijelaskan dengan satu pemeriksaan saja.

Apakah Gagal Berkembang Berarti IVF Gagal Total?

Tentu tidak, Bunda. Kegagalan di satu siklus bukan akhir dari segalanya. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh—mulai dari kualitas sel telur, sperma, kondisi rahim, hingga prosedur laboratorium—untuk mencari faktor yang bisa diperbaiki sebelum mencoba lagi.

Beberapa langkah yang bisa membantu meningkatkan peluang mendapatkan embrio berkualitas antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Menghindari rokok dan alkohol
  • Mengelola penyakit seperti diabetes atau gangguan tiroid
  • Mengikuti anjuran dokter tentang obat dan suplemen
  • Memilih klinik fertilitas dengan standar laboratorium yang baik

Semoga informasi ini bermanfaat dan memberikan semangat baru bagi Bunda yang sedang menjalani program bayi tabung. Tetaplah berpikiran positif, ya!

Reporter: Hestia Ramadhani